Melemahnya
Nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka Rp 10.000 per satu dollar Amerika
Serikat pada hari Senin (9 September 2013) lalu perlu diwaspadai, karena ekonomi makro
Indonesia memerlukan kestabilan dan bukan labil.
Bersyukur
nilai tukar rupiah pada Selasa kemarin ditutup pada Rp 9.830 per satu
dolar Amerika berkat adanya intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia.
Biasanya
intervensi menggunakan cadangan devisa, dimana cadangan devisa sekarang tercatat
sekitar USD 112 miliar, cukup untuk mengintervensi sekitar tiga bulan jika
masih terjadi gejolak.
Kejadian
ini bisa dikategorikan bersifat insidental, bukan semata-mata karena
menjelang kenaikan harga BBM Bersubsidi. Namun kita harus melihat apakah dengan
jebolnya kembali nilai rupiah terhadap mata uang asing sebagai dampak dari
sentimen global atau terjadinya in-efisiensi dalam perekonomian domestik?
Nilai rupiah yang berubah-ubah
tidak stabil akan sangat mempengaruhi ekonomi makro Indonesia. Secara garis besar ada tiga
variabel yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia yaitu, variabel yang pertama
berhubungan dengan nilai tukar rupiah berupa nilai keseimbangan
permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata uang
asing.
Merosotnya
nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata
uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena
meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional.
Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan bahan baku.
Variabel
yang kedua adalah tingkat suku bunga, dimana akan terjadi meningkatnya nilai
suku bunga perbankan yang akan berdampak pada perubahan investasi di
Indonesia.
Sedangkan
variabel yang ketiga adalah terjadinya Inflasi, meningkatnya harga-harga
secara umum dan kontinu, akibat komsumsi masyarakat yang meningkat,
dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi.
Terlebih
lagi akibat lambatnya pengumuman penaikan harga BBM bersubsidi memberikan
dampak psikologis terhadap pasar dan membuat defisit APBN semakin besar.
Pelemahan
nilai tukar rupiah juga dipicu oleh naiknya impor BBM yang dilakukan oleh
Pertamina. Impor BBM yang besar membuat neraca perdagangan defisit dan
menekan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Faktor
lainnya yang mempengaruhi adalah ekonomi dunia yang memburuk yang membuat saham
di bursa dijual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar